Memahami Panguripan sebagai Anugerah dalam Kerangka Kawruh Sejati.
Kehidupan bukanlah sesuatu yang diciptakan oleh kehendak manusia. Janma manusa hadir ke dalam kehidupan tanpa terlebih dahulu menentukan dari mana kehidupan berasal, bagaimana kehidupan bekerja, dan kapan kehidupan akan berakhir. Sebelum manusia mampu berpikir, merasa, memilih, dan berbuat, kehidupan telah lebih dahulu ada.
Dalam kerangka Kawruh Sejati dan Kawruh Uttamopadesa, keadaan tersebut dipahami melalui pengertian Sang Sumber Panguripan.
Sang Sumber Panguripan merupakan sumber dari adanya kehidupan. Karena itu, kehidupan tidak semata-mata dipandang sebagai rangkaian pengalaman biologis, perjalanan waktu, atau kumpulan peristiwa, melainkan sebagai anugerah yang memungkinkan seluruh pengalaman kehidupan berlangsung.
Ungkapan “Kehidupan adalah Anugerah Sang Sumber Panguripan” menjadi dasar untuk memahami bagaimana manusia seharusnya memandang keberadaannya, menggunakan kesempatan hidup, dan menjalani laku.
1. Panguripan Tidak Berasal dari Kehendak Manusia.
Hal pertama yang perlu dipahami adalah bahwa manusia tidak menciptakan kehidupan bagi dirinya sendiri.
Janma manusa dapat mengatur banyak hal dalam kehidupan. Manusia dapat membangun rumah, membuat teknologi, menyusun pengetahuan, menentukan pekerjaan, membentuk hubungan, dan memilih berbagai tindakan. Namun kemampuan tersebut baru muncul setelah kehidupan itu telah ada.
Artinya, kemampuan manusia untuk berpikir dan bertindak merupakan bagian dari kehidupan yang telah diterimanya.
Karena itu, kehidupan memiliki kedudukan yang mendahului seluruh hasil usaha manusia. Sebelum seseorang memiliki pencapaian, harta, kedudukan, pengetahuan, ataupun pengalaman, terlebih dahulu terdapat kehidupan yang memungkinkan semuanya itu terjadi.
Kesadaran terhadap kenyataan tersebut membawa manusia kepada pengertian bahwa hidup bukan semata-mata milik yang dapat diperlakukan sesuka hati, melainkan anugerah yang patut disadari dan dijalani dengan tanggung jawab.
2. Makna Sang Sumber Panguripan.
Sang Sumber Panguripan tidak dipahami sebagai benda, tempat, bentuk, atau sosok tertentu. Pengertian tersebut menunjuk kepada sumber dari adanya panguripan.
Dengan demikian, Sang Sumber Panguripan tidak perlu dibayangkan sebagai sesuatu yang berada di suatu lokasi tertentu. Panguripan merupakan kenyataan yang telah berlangsung, dan manusia berada di dalam kenyataan tersebut sebagai bagian dari kehidupan.
Pemahaman ini menghindarkan manusia dari kecenderungan menjadikan Sang Sumber Panguripan sebagai objek bayangan atau gambaran ciptaan pikirannya sendiri.
Yang menjadi pokok bukanlah membentuk gambaran tentang Sang Sumber Panguripan, melainkan menyadari bahwa kehidupan memiliki sumber yang mendahului keberadaan manusia sebagai pribadi.
Dari kesadaran tersebut tumbuh sikap andhap asor. Manusia menyadari bahwa dirinya bukan awal dari segala sesuatu.
3. Anugerah Bukan Sekadar Pemberian Material.
Istilah anugerah sering dipahami sebagai sesuatu yang diberikan kepada seseorang dalam bentuk benda, keberuntungan, atau keadaan yang menyenangkan. Dalam konteks kehidupan, maknanya jauh lebih mendasar.
Anugerah yang dimaksud adalah kesempatan untuk mengalami dan menjalani kehidupan itu sendiri.
Kemampuan melihat, mendengar, merasakan, berpikir, menentukan arah, mencipta, mengembangkan rasa, dan mewujudkan karsa semuanya berlangsung karena manusia berada dalam kehidupan.
Karena itu, anugerah tidak hanya tampak ketika manusia memperoleh sesuatu yang diinginkan. Bahkan ketika kehidupan menghadirkan pengalaman sulit, kesempatan untuk menyadari, memahami, belajar, dan menentukan laku tetap merupakan bagian dari kehidupan.
Dengan pemahaman demikian, manusia tidak hanya mengukur anugerah berdasarkan kesenangan. Kehidupan secara keseluruhan wajib dipahami sebagai anugerah.
4. Kesadaran terhadap Anugerah Melahirkan Tanggung Jawab.
Menyadari kehidupan sebagai anugerah tidak berarti manusia hanya perlu merasa bersyukur secara batin. Kesadaran tersebut seharusnya mempunyai konsekuensi dalam tindakan.
Jika kehidupan merupakan anugerah, maka kesempatan hidup tidak sepatutnya dihabiskan tanpa arah.
Manusia perlu menggunakan kehidupan untuk menata dirinya. Cipta diarahkan menuju Weninging Cipta, rasa menuju Tulusing Rasa, dan karsa menuju Utamaning Karsa.
Ketiganya bukan sekadar istilah yang berdiri sendiri. Cipta, rasa, dan karsa menjadi bagian penting dari bagaimana manusia menjalani kehidupannya.
Cipta yang wening membantu manusia melihat dengan lebih jernih. Rasa yang tulus membantu manusia tidak dikuasai kepentingan diri semata. Karsa yang utama membantu manusia menentukan arah tindakan yang lebih baik.
Dengan demikian, kesadaran akan anugerah kehidupan diwujudkan melalui laku yang semakin tertata.
5. Menghargai Kehidupan Berarti Menjaga Laku Hidup.
Penghargaan terhadap kehidupan tidak cukup diwujudkan melalui ucapan. Ukuran yang lebih nyata terdapat pada cara manusia menjalani kehidupan sehari-hari.
Manusia dapat menghargai kehidupan dengan menjaga tubuh, menggunakan kemampuan secara bertanggung jawab, memperlakukan sesama dengan baik, mengendalikan tindakan yang merusak, serta menggunakan waktu untuk sesuatu yang memiliki makna.
Dalam kerangka ini, laku bukan sesuatu yang terpisah dari kawruh. Kawruh yang benar semestinya mempunyai perwujudan dalam kehidupan.
Manusia yang memahami kehidupan sebagai anugerah akan semakin menyadari bahwa setiap waktu memiliki batas. Kehidupan jasmani tidak berlangsung selamanya.
Karena itu, kesempatan yang masih dimiliki tidak sepatutnya disia-siakan.
Ungkapan yang selaras dengan kesadaran tersebut adalah:
“Eling marang wewatesaning panguripan. Nalika wekdal taksih kaasta, sumangga ngupadi weninging cipta, tulusing rasa, saha utamaning karsa.”
Kesadaran terhadap batas kehidupan justru mendorong manusia untuk memperbaiki laku selama kesempatan masih ada.
6. Anugerah Kehidupan dan Sikap Andhap Asor.
Pemahaman tentang anugerah juga melahirkan sikap andhap asor. Andhap asor bukan berarti merendahkan diri atau menganggap diri tidak memiliki nilai. Sebaliknya, andhap asor berarti menyadari kedudukan diri secara tepat.
Manusia memiliki kemampuan untuk memilih dan bertindak, tetapi kemampuan tersebut bukan alasan untuk menganggap dirinya sebagai sumber kehidupan.
Kesadaran tersebut membuat manusia lebih berhati-hati dalam menggunakan kekuasaan, pengetahuan, kemampuan, dan berbagai pencapaian yang dimilikinya.
Apa yang dimiliki manusia dapat berubah. Tubuh berubah, keadaan berubah, hubungan berubah, dan waktu terus berjalan. Namun kesadaran bahwa kehidupan merupakan anugerah memberikan dasar bagi manusia untuk tidak mudah terjebak dalam kesombongan atas apa yang sementara dimilikinya.
7. Kehidupan sebagai Kesempatan untuk Menempuh Laku.
Jika kehidupan hanya dipandang sebagai sesuatu yang harus dinikmati, manusia mudah menjadikan kesenangan sebagai tujuan utama.
Sebaliknya, apabila kehidupan dipahami sebagai anugerah, maka setiap keberadaan menjadi kesempatan untuk menjalani laku. Laku berarti bagaimana manusia membawa pemahaman ke dalam tindakan nyata. Ia belajar menata cipta, memurnikan rasa, mengutamakan karsa, serta bertindak dengan kesadaran.
Dengan demikian, kehidupan tidak hanya menjadi tempat manusia memperoleh pengalaman, tetapi juga menjadi ruang untuk mengembangkan kualitas dirinya.
Anugerah kehidupan menjadi bermakna ketika kesempatan tersebut digunakan untuk menjalani kehidupan dengan kesadaran dan tanggung jawab.
8. Kesadaran akan Anugerah dan Hubungan dengan Sang Sumber Panguripan.
Kesadaran terhadap Sang Sumber Panguripan tidak harus diwujudkan melalui gambaran atau bentuk tertentu. Yang utama adalah kesadaran bahwa manusia menerima kehidupan dari sumber yang mendahului keberadaannya.
Dari sini lahir sikap manembah yang tidak bertumpu pada paksaan, melainkan pada kesadaran, ketulusan, dan andhap asor.
Manembah bukan sekadar tindakan lahiriah. Ia merupakan sikap batin yang menyadari asal kehidupan dan menempatkan diri secara tepat di dalam panguripan.
Semakin manusia menyadari bahwa kehidupan bukan hasil ciptaannya sendiri, semakin kuat dorongan untuk menjalani kehidupan dengan penuh tanggung jawab.
9. Makna Anugerah pada Akhir Perjalanan Kehidupan.
Kehidupan memiliki batas. Raga pada waktunya akan berhenti menjalankan fungsi kehidupan jasmani. Kenyataan tersebut mengingatkan manusia bahwa kesempatan untuk menjalani laku tidak berlangsung tanpa batas.
Karena itu, pertanyaan yang penting bukan hanya berapa lama seseorang hidup, tetapi bagaimana kehidupan yang telah diterimanya itu dijalani dengan sungguh-sungguh.
Kesadaran ini mengarahkan manusia untuk tidak terus-menerus menunda perbaikan diri. Selama kehidupan masih berlangsung, masih terdapat kesempatan untuk menata cipta, rasa, dan karsa.
Dengan demikian, kesadaran terhadap kematian tidak harus menghasilkan ketakutan. Ia dapat menjadi pengingat agar manusia menghargai kehidupan yang sedang dijalaninya.
Penutup.
Kehidupan adalah anugerah Sang Sumber Panguripan merupakan pemahaman mendasar bahwa manusia menerima kesempatan untuk hidup sebelum mampu menentukan apa pun bagi dirinya sendiri.
Anugerah tersebut bukan hanya berupa kesenangan atau keberuntungan, melainkan keberadaan kehidupan itu sendiri beserta kesempatan untuk mengalami, memahami, memilih, dan menjalani laku.
Kesadaran ini membawa manusia kepada sikap andhap asor, tanggung jawab, serta penghargaan terhadap setiap kesempatan hidup. Cipta ditata menuju Weninging Cipta, rasa diarahkan menuju Tulusing Rasa, dan karsa diwujudkan sebagai Utamaning Karsa.
Dengan demikian, memahami kehidupan sebagai anugerah bukan berhenti pada pemahaman. Ia menjadi dasar bagi laku: menjalani kehidupan dengan sadar, menggunakan kesempatan sebaik-baiknya, dan senantiasa eling marang Sang Sumber Panguripan.
FAQ - Kehidupan Adalah Anugerah Sang Sumber Panguripan.
1. Apa makna “Kehidupan adalah Anugerah Sang Sumber Panguripan”?
Maknanya adalah kehidupan merupakan pemberian yang memungkinkan manusia hadir, mengalami, memahami, memilih, dan menjalani kehidupan.
2. Apakah Sang Sumber Panguripan merupakan suatu bentuk atau tempat?
Tidak. Sang Sumber Panguripan tidak dipahami sebagai benda, tempat, atau bentuk tertentu, melainkan sebagai sumber dari adanya panguripan.
3. Mengapa kehidupan disebut anugerah?
Karena manusia tidak menciptakan keberadaan hidupnya sendiri. Kehidupan telah ada sebelum manusia mampu berpikir dan menentukan kehendaknya.
4. Apa konsekuensi memahami kehidupan sebagai anugerah?
Kesadaran tersebut mendorong manusia menjalani kehidupan dengan rendah hati, bertanggung jawab, dan menggunakan kesempatan hidup untuk menata laku.
5. Apa hubungan anugerah kehidupan dengan cipta, rasa, dan karsa?
Kesadaran akan anugerah kehidupan menjadi dasar untuk menata cipta menuju Weninging Cipta, rasa menuju Tulusing Rasa, dan karsa menuju Utamaning Karsa.
6. Bagaimana anugerah kehidupan diwujudkan dalam laku?
Dengan menggunakan kesempatan hidup secara sadar, menjaga kehidupan, memperbaiki diri, serta mewujudkan pemahaman melalui tindakan yang bertanggung jawab.

Komentar
Posting Komentar