KAWRUH UTTAMOPADESA SEBAGAI KERANGKA PEMAHAMAN DAN LAKU KEHIDUPAN
Kawruh Uttamopadesa yang disusun oleh Dhimas Purnomo dapat dipahami sebagai suatu kerangka pemahaman mengenai kehidupan manusia yang tidak berhenti pada persoalan pengetahuan. Kawruh ini menghubungkan pemahaman tentang hakikat kehidupan, hakikat diri, kesadaran, serta cara manusia menjalani kehidupannya melalui laku yang nyata.
Sudut pandang tersebut penting karena manusia tidak hanya membutuhkan pengetahuan mengenai kehidupan, tetapi juga membutuhkan arah untuk menjalani kehidupan berdasarkan pemahaman yang dimilikinya. Pengetahuan yang tidak diwujudkan dalam kehidupan dapat tetap berada sebagai gagasan. Sebaliknya, pemahaman yang dihayati dan dilakoni dapat membentuk perubahan dalam cara manusia berpikir, merasakan, menentukan kehendak, dan bertindak.
1. Kawruh sebagai Kerangka Memahami Kehidupan.
Kehidupan manusia dapat dilihat dari berbagai tingkat. Manusia mengenal dirinya melalui raga, pancaindra, pikiran, perasaan, kehendak, pengalaman, dan hubungan dengan lingkungan. Namun, pengenalan tersebut belum tentu membawa manusia kepada pemahaman mengenai hakikat kehidupannya.
Kawruh Uttamopadesa menempatkan pertanyaan tentang kehidupan sebagai dasar pengkajian. Apa yang menjadi sumber kehidupan? Apa hakikat manusia? Apa yang menggerakkan kehidupan manusia? Bagaimana hubungan antara kehidupan jasmani dan rohani? Bagaimana manusia dapat menjalani kehidupan secara benar?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut kemudian ditempatkan dalam suatu kerangka yang mencakup Sang Sumber Panguripan, Prabhawaning Panguripan, Jatining Panguripan, Jiwa, kesadaran, cipta, rasa, karsa, raga, dan Panguripan Janma.
Dengan kerangka tersebut, manusia tidak hanya dipandang dari apa yang tampak secara lahiriah, tetapi juga dari dimensi terdalam kehidupan yang membentuk keberadaannya.
2. Dari Mengetahui Menuju Memahami.
Salah satu perbedaan penting dalam Kawruh Uttamopadesa adalah pembedaan antara mengetahui dan memahami.
Mengetahui berarti memperoleh informasi mengenai sesuatu. Seseorang dapat mengetahui berbagai istilah, ajaran, uraian, atau konsep tanpa mengalami perubahan berarti dalam dirinya.
Memahami memiliki tuntutan yang lebih jauh karena pemahaman seharusnya mempunyai hubungan dengan cara manusia menjalani kehidupan.
Misalnya, memahami pentingnya Weninging Cipta bukan sekadar mengetahui bahwa cipta harus jernih. Pemahaman tersebut seharusnya terlihat dalam kemampuan manusia mengenali prasangka, menimbang pikiran, menghindari penilaian yang tergesa-gesa, dan melihat suatu persoalan dengan lebih jernih.
Demikian pula Tulusing Rasa dan Utamaning Karsa bukan sekadar istilah. Keduanya menjadi arah pengolahan diri yang dapat diamati melalui kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, ukuran penting kawruh bukan hanya seberapa banyak yang diketahui, tetapi sejauh mana pemahaman tersebut menemukan bentuk dalam laku.
3. Kawruh Sejati sebagai Pepadhang.
Dalam kerangka Uttamopadesa terdapat perbedaan antara Kawruh Sejati dan Kawruh Kasunyatan.
Kawruh Sejati ditempatkan sebagai pepadhang yang menjadi dasar bagi kesadaran manusia. Ia tidak sekadar merupakan hasil pemikiran atau kesimpulan pribadi. Karena itu, Kawruh Sejati tidak dapat disamakan dengan setiap gagasan yang muncul dalam pikiran manusia.
Sementara itu, Kawruh Kasunyatan merupakan pemahaman manusia terhadap kenyataan kehidupan. Manusia berusaha memahami kehidupan berdasarkan apa yang disadari, diamati, dihayati, dan dijalani.
Perbedaan ini memberikan ruang bagi manusia untuk tetap membedakan antara hakikat kebenaran dan pemahaman manusia terhadap kenyataan.
Pengalaman pribadi dapat menjadi bagian dari proses memahami kehidupan, tetapi pengalaman tersebut tidak dengan sendirinya menjadi Kawruh Sejati.
4. Manusia sebagai Kesatuan Kehidupan Jasmani dan Rohani.
Kawruh Uttamopadesa juga memberikan kerangka untuk memahami manusia secara lebih menyeluruh.
Raga merupakan wahana kehidupan jasmani. Prana menjadi daya kehidupan jasmani yang menopang kehidupan raga. Pancaindra menjadi sarana untuk berhubungan dengan dunia melalui pengalaman indrawi.
Di sisi lain terdapat Jiwa sebagai daya kehidupan rohani. Dalam pembahasan mengenai Jiwa terdapat pemahaman tentang Jiwatman atau Jatining Dhiri, yang berkaitan dengan hakikat terdalam diri dan Guru Sejati. Dalam kerangka ini digunakan istilah Kawruhanta Acarya sebagai penuntun menuju Kawruh Sejati.
Jiwatman atau Jatining Dhiri menumbuhkan Kesadaran. Kesadaran atau Cetana kemudian memungkinkan manusia menyadari dan memahami kehidupannya. Kesadaran tersebut berkaitan dengan cipta, rasa, dan karsa yang diwujudkan dalam kehidupan melalui tindakan.
Kerangka ini menunjukkan bahwa manusia tidak cukup dipahami hanya berdasarkan tubuhnya. Kehidupan manusia memiliki dimensi jasmani dan rohani yang saling berkaitan dalam pengalaman kehidupan.
5. Cipta, Rasa, dan Karsa sebagai Ruang Pengolahan Diri.
Cipta, rasa, dan karsa merupakan bagian penting dalam laku Uttamopadesa karena ketiganya berhubungan langsung dengan kehidupan manusia.
Cipta berhubungan dengan kemampuan memahami dan membentuk arah pemikiran.
Rasa berhubungan dengan penghayatan terhadap kehidupan.
Karsa berhubungan dengan kehendak yang mendorong manusia menuju tindakan.
Ketiganya membutuhkan pengolahan agar tidak berjalan secara tidak tertata.
Weninging Cipta mengarahkan cipta menuju kejernihan. Tulusing Rasa mengarahkan rasa menuju ketulusan. Utamaning Karsa mengarahkan kehendak menuju keutamaan.
Ketiga arah tersebut membentuk satu kesatuan. Cipta memberikan kejernihan dalam memahami, rasa memberikan kedalaman dalam menghayati, sedangkan karsa memberikan arah dalam bertindak.
Karena itu, pengolahan cipta, rasa, dan karsa bukan kegiatan yang terpisah dari kehidupan, melainkan berlangsung melalui kehidupan itu sendiri.
6. Laku sebagai Bentuk Nyata Kawruh.
Kawruh yang hanya dipahami secara teoritis belum menunjukkan keseluruhan prosesnya. Pemahaman harus menemukan bentuk melalui laku.
Laku dapat terlihat dari cara manusia berbicara, mengambil keputusan, menghadapi persoalan, memperlakukan sesama, mengendalikan dorongan, menggunakan kehendak, dan menjalani tanggung jawab kehidupan.
Dengan demikian, kehidupan sehari-hari menjadi ruang untuk melihat apakah suatu pemahaman benar-benar telah dihayati.
Seseorang tidak perlu menunggu keadaan khusus untuk menjalankan kawruh. Kehidupan keluarga, pekerjaan, hubungan sosial, keputusan pribadi, serta berbagai persoalan sehari-hari merupakan ruang nyata untuk melatih kejernihan cipta, ketulusan rasa, dan keutamaan karsa.
7. Meditasi sebagai Sarana, Bukan Pusat Kehidupan.
Dalam pengembangan laku, meditasi dapat digunakan sebagai sarana untuk menata perhatian dan mengembangkan kesadaran. Namun, meditasi tidak ditempatkan sebagai tujuan akhir.
Keheningan dalam meditasi perlu menemukan hubungan dengan kehidupan setelah seseorang kembali menjalani aktivitas sehari-hari.
Karena itu, pertanyaan penting bukan hanya apakah seseorang mampu mencapai ketenangan ketika bermeditasi, tetapi bagaimana ketenangan dan kesadaran tersebut mempengaruhi cara berpikir, merasakan, dan bertindak.
Laku menjadi utuh ketika hasil pengolahan batin terbawa ke dalam kehidupan nyata.
8. Kehidupan sebagai Ruang Pengujian.
Kawruh Uttamopadesa menempatkan kehidupan sebagai ruang untuk menguji pemahaman. Manusia tidak hanya menerima suatu pengetahuan, tetapi menjalani proses untuk melihat bagaimana pengetahuan tersebut bekerja dalam dirinya.
Ketika menghadapi persoalan, manusia dapat mengamati apakah cipta tetap jernih. Ketika menghadapi hubungan dengan orang lain, manusia dapat mengamati apakah rasa tetap tulus.
Ketika harus mengambil keputusan, manusia dapat mengamati apakah karsa diarahkan kepada keutamaan.
Dengan cara demikian, kehidupan menjadi bagian dari proses pembelajaran yang terus berlangsung.
Kawruh tidak dapat dipisahkan dari kenyataan. Justru melalui kenyataan kehidupan, manusia dapat melihat sejauh mana pemahaman telah menjadi bagian dari dirinya.
9. Arah Laku Menuju Wangsul.
Keseluruhan kerangka tersebut mengarah pada suatu perjalanan kesadaran. Manusia berangkat dari kehidupan sebagaimana adanya, kemudian berusaha memahami dirinya, mengenali sumber kehidupan, menata kesadaran, serta mengolah cipta, rasa, dan karsa.
Arah akhirnya adalah Wangsul Marang Sang Sumbering Panguripan.
Wangsul tidak semata-mata dipahami sebagai persoalan setelah kematian. Ia juga merupakan arah kesadaran dalam kehidupan sekarang, yaitu usaha untuk kembali selaras dengan sumber kehidupan melalui pemurnian cipta, rasa, dan karsa.
Dengan demikian, Wangsul menjadi arah perjalanan laku, bukan sekadar gagasan mengenai suatu keadaan yang akan datang.
Penutup.
Kawruh Uttamopadesa dapat dipahami sebagai kerangka yang menghubungkan pemahaman tentang kehidupan dengan proses pengolahan diri dan laku manusia.
Kawruh ini disusun oleh Dhimas Purnomo dan tidak ditempatkan sebagai agama, dogma, aliran kepercayaan, ritual gaib, klenik, maupun ajaran kesaktian. Titik tekan utamanya adalah pemahaman mengenai kehidupan dan bagaimana pemahaman tersebut diwujudkan dalam kehidupan nyata.
Dari Sang Sumber Panguripan hingga kehidupan manusia, dari Kawruh Sejati hingga Kawruh Kasunyatan, dari Jiwa dan kesadaran hingga cipta, rasa, dan karsa, seluruh kerangka tersebut mengarah pada satu proses, yaitu memahami kehidupan dan mewujudkan pemahaman itu dalam laku.
Karena itu, inti penerapannya dapat dilihat melalui tiga arah utama: Weninging Cipta, Tulusing Rasa, dan Utamaning Karsa.
Ketika ketiganya mulai diwujudkan dalam kehidupan, kawruh tidak lagi berhenti sebagai pengetahuan. Kawruh menjadi laku, dan laku menjadi jalan bagi manusia untuk menjalani kehidupan dengan kesadaran yang semakin jernih, tulus, dan utama.
FAQ - Kawruh Uttamopadesa.
1. Apa yang dimaksud dengan Kawruh Uttamopadesa?
Kawruh Uttamopadesa adalah kerangka kawruh yang membahas hakikat kehidupan manusia, hakikat diri, kesadaran, serta tuntunan laku untuk menjalani kehidupan secara sadar, murni, dan luhur.
2. Siapa yang menyusun Kawruh Uttamopadesa?
Kawruh Uttamopadesa disusun oleh Dhimas Purnomo sebagai suatu kerangka pemahaman dan laku mengenai kehidupan manusia.
3. Apakah Kawruh Uttamopadesa merupakan agama atau aliran kepercayaan?
Tidak. Kawruh Uttamopadesa tidak ditempatkan sebagai agama, dogma, aliran kepercayaan, ritual gaib, klenik, maupun ajaran kesaktian, melainkan sebagai kawruh tentang kehidupan dan laku manusia.
4. Apa hubungan Kawruh Sejati dan Kawruh Kasunyatan dalam Uttamopadesa?
Kawruh Sejati dipahami sebagai pepadhang bagi kesadaran, sedangkan Kawruh Kasunyatan merupakan pemahaman manusia terhadap kenyataan kehidupan. Keduanya tidak disamakan.
5. Apa tujuan pengolahan cipta, rasa, dan karsa?
Tujuannya adalah mengarahkan cipta menuju Weninging Cipta, rasa menuju Tulusing Rasa, dan karsa menuju Utamaning Karsa, sehingga pemahaman dapat diwujudkan dalam laku kehidupan.
6. Apa arah akhir laku Kawruh Uttamopadesa?
Arah akhirnya adalah Wangsul Marang Sang Sumbering Panguripan, yaitu arah kesadaran untuk kembali selaras dengan sumber kehidupan melalui pemurnian cipta, rasa, dan karsa.
